READING MILESTONE

April 2, 2010

By Rika Mustafa Didit

Mengajarkan anak membaca sejak dini, akan memudahkan mereka untuk mengenal kata dan berbicara seiring dengan bertambahnya usia mereka. Setiap anak memiliki fase perkembangan, dan masa/periode yang berbeda-beda pada tiap tingkat perkembangannya.

Bayi (0 – 1 tahun)
Biasanya anak mulai dengan :

* Meniru suara yang mereka dengar dalam bahasa
* Merespon jika diajak berbicara (dengan meracau, dsbnya)
* Melihat gambar
* Meraih buku dan mencoba membuka halaman dengan bantuan orang lain
* Merespon cerita dan gambar dengan bersuara sambil menunjuk/menepuk gambar

Toddlers (Usia 1–3 tahun )
Biasanya anak akan memulai dengan :

* Mengidentifikasi atau menjawab pertanyaan seputar benda/objek yang dilihatnya dalam buku- seperti “Sapinya ada di mana?” atau “Sapi bilang apa, Ma?”
* menyebutkan nama gambar yang sudah dikenali
* menunjuk untuk mengenali nama benda/objek
* berpura-pura membaca buku
* menyelesaikan kalimat terakhir dari buku yang sudah sangat mereka kenali
* mengacak-acak kertas buku
* mengenali nama buku dan mengidentifikasi buku tersebut dengan melihat gambar depannya
* membaolak-balik halaman
* memiliki buku favorit dan meminta untuk terus dibaca ulang

Preschool (Usia 3 tahun )
Biasanya anak akan memulai dengan :

* meng-explore buku secara mandiri
* mendengarkan buku cerita yang dibaca dengan suara yang keras
* menceritakan kembali buku cerita yang sudah dikenalinya
* menyebutkan huruf
* menyanyikan lagu A-Z
* membuat symbol seperti tulisan (coret-coretan)
* meniru membaca buku dengan keras

Preschool (Usia 4 tahun )
Biasanya anak akan memulai dengan :

* mengenal tanda/label yang sudah ‘familiar’, misalnya tanda/label pada kendaraan atau mobil truk ‘container’
* membuat kalimat atau celotehan yang “asal”
* mengenali dan menulis beberapa huruf dari rangkaian alphabet
* membaca dan menulis nama mereka
* menyebut huruf atau bunyi yang mengawali kata
* mencocokkan beberapa huruf dengan bunyi pelafadzannya
* menggunakan huruf yang ’familiar’ untuk menulis kata.

Kindergarten (Usia 5)
Biasanya anak akan memulai dengan :

* memahami susunan kata dan bermain menyusun kata
* mencocokkan kata yang diucapkan dengan tulisan
* memahami bahwa buku cerita dibaca dari kiri ke kanan, atas ke bawah
* menuliskan beberapa huruf dan angka
* mengenali kata-kata yang sudah ‘familiar’
* menebak apa yang akan terjadi pada cerita selanjutnya
* menceritakan kembali isi cerita yang sudah mereka simak/dengarkan

Nah..mudah-mudahan dengan memahami hal-hal dasar dari proses pengenalan huruf, membaca dan berbicara pada anak sesuai dengan usianya, kita dapat lebih terpacu untuk mengamati dan melatih perkembangan anak dalam berbicara.Jangan lupa biasakan anak dengan perilaku dan perkataan yang santun. Selamat mencoba!

Iklan

SPEECH DELAY AND LANGUAGE DEVELOPMENT

April 2, 2010

By Rika Mustafa Didit

Memahami Perkembangan Bahasa dan Bicara secara Normal

Sangatlah penting untuk mendiskusikan perkembangan anak setiap kali kunjungan ke dokter. Mungkin sulit untuk menjelaskan apakah anak kita kurang matang, apa saja masalah perkembangan yang terjadi. Berikut ini beberapa norma perkembangan anak yang dapat memberikan petunjuk :

Sebelum 12 bulan

Pada usia ini, anak menggunakan suara untuk berhubungan dengan lingkungan sekelilingnya. Berceloteh atau meracau merupakan tingkatan dalam perkembangan berbicara. Saat usia bertambah (sekitar 9 bulan), bayi mulai menarik suara bersamaan, menghubungkan nada yang berbeda, dan berkata “mama” dan “dada” (meskipun tidak mengetahui artinya). Sebelum 12 bulan, bayi harus dilatih untuk mendengarkan berbagai suara. Bayi yang hanya memperhatikan namun tidak bereaksi terhadap suara kemungkingan menderita kelemahan pendengaran.

Usia 12 – 15 bulan

Pada usia ini bayi sudah memiliki keluasan ranah suara/bicara dan setidaknya mampu berkata satu atau lebih kata secara benar (tidak termasuk “mama” dan “dada”). Kata benda biasanya muncul duluan, seperti “bayi” and “bola.” Bayi anda sudah bisa memahami dan mengikuti satu petunjuk/perintah (Contoh : “Tolong beri mama mainannya nak”).

Usia 18 – 24 bulan

Anak sudah memiliki kosa kata sebanyak 20 kata pada usia 18 bulan dan 50 atau lebih kata terpisah pada saat menginjak usia 2 tahun. Di usia 2 tahun, anak belajar menyambung 2 kata, seperti “Dede’ nangis” atau “Papa besar.” . Pada usia ini anak juga sudah mampu mengikuti dua petunjuk/perintah (seperti “Tolong ambil mainannya dan beri mama gelasmu“ ).

Usia 2 – 3 tahun

Pada usia ini terjadi “ledakan” pada kemampuan bicara anak. Kosa kata anak bertambah tak terhitung jumlahnya dan anak sudah mampu menggabungkan 3 atau lebih kata ke dalam kalimat. Istilah yang dipahami anak juga bertambah – pada usia 3 tahun, sudah mulai mengerti apa artinya “simpan itu di atas meja” atau “simpan di dalam lemari”. Anak juga sudah mulai mengenal warna dan membandingkan konsep (seperti besar-kecil, tinggi-rendah).

Berbicara dan bahasa mungkin membingungkan, namun berikut ini pembedanya :

Meskipun masalah bicara dan bahasa berbeda, keduanya seringkali overlap. Seorang anak yang memiliki masalah bahasa mungkin mampu mengucapkan kata namun tidak mampu menghubungkan lebih dari dua kata secara bersamaan. Kebalikkannya, cara berbicara anak lainnya mungkin sulit dipahami, namun dia mampu menggunakan kata atau istilah untuk mengungkapkan gagasan. Anak lainnya lagi dapat berbicara dengan baik namun sulit untuk mengikuti petunjuk/perintah.

Apa saja tanda-tanda yang patut diwaspadai?

Bayi yang tidak merespon suara atau tidak mampu membuat suara, patut diwaspadai dan diberi perhatian. Usia antara 12 – 24 bulan, perlu diperhatikan /diwaspadai bila anak :

* Tidak menggunakan gerak/bahasa tubuh, seperti menunjuk sesuatu atau melambaikan tangan pada usia 12 bulan
* Lebih banyak menggunakan bahasa tubuh daripada suara pada usia 18 bulan
* Memiliki masalah dalam meniru suara pada usia 18 bulan

Untuk anak usia di atas 2 tahun, anda harus mengevaluasi bila anak terlihat:

* Hanya meniru bicara atau perilaku dan tidak menghasilkan kata atau kalimat secara spontan
* Mengeluarkan suara atau kata secara berulang-ulang dan tidak dapat menggunakan bahasa untuk berkomunikasi lebih dari kebutuhannya
* Tidak dapat mengikuti petujuk/perintah sederhana
* Memiliki nada suara yang tidak biasa (seperti raspy atau nasal sounding)
* Sangat sulit dipahami dari apa yang diharapkan mampu dia lakukan di usianya. Orang tua harus memahami setengah dari kemampuan bahasa anak usia 2 tahun dan tiga per empat dari kemampuan bicara anak usia 3 tahun. Pada usia 4 tahun, anak harus sudah dapat dipahami, bahkan oleh orang yang tidak dikenali mereka.

Apa penyebab keterlambatan bicara dan bahasa?

Ada banyak alasan terjadinya keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara anak. Terkadang disebabkan oleh gangguan oral, seperti masalah pada lidah atau langit-langit mulut. Lidah yang pendek/kelu hampir dipastikan bukan penyebab delayed speech.

Beberapa anak yang mengalami keterlambatan bicara karena memiliki masalah dengan gerak oral, ada ketidak efisienan dalam komunikasi di daerah otak yang bertanggung jawab pada produksi bicara. Anak mengalami kesulitan dalam menggunakan bibir, lidah, dan rahang untuk menghasilkan suara. Bicara mungkin satu-satunya yang menyertai masalah gerak oral lainnya, seperti kesulitan makan. Keterlambatan bicara dapat juga mengindikasikan keterlambatan perkembangan anak secara global.

Problem pendengaran juga dikaitkan dengan keterlambatan bicara, oleh karenanya pendengaran anak sebaiknya diuji oleh ahli pendengaran (audiologist) seperti halnya perhatian terhadap kemampuan bicara. Jika anak memiliki masalah dengan pendengaran, mereka juga akan memiliki masalah dengan pemahaman, peniruan, dan penggunaan bahasa.

Infeksi telinga, terutama dalam keadaan kronis, dapat mempengaruhi kemampuan mendengar.Infeksi ringan yang sudah dirawat pun seharusnya tidak mempengaruhi kemampuan bicara. Namun sangatlah penting untuk membuat catatan saran bahwa pada situasi tertentu bergantung pada usia anak, infeksi telinga dapat diamati tanpa dirawat karena seringkali dapat sembuh dengan sendirinya.

Apa yang akan dilakukan oleh Speech-Language Pathologist?

Dalam melakukan evaluasi seorang pathologist akan melihat kemampuan bicara dan bahasa anak dalam bagian perkembangan secara keseluruhan. Selama observasi tersebut pathologist akan menggunakan uji dan skala standar, sesuai dengan pengetahuannya akan tahapan perkembangan bicara dan bahasa. Patologist juga akan menilai:

* Apa yang anak pahami (bahasa receptive/yang diterima)
* Apa yang anak dapat ucapkan (bahasa ekspresif)
* Apabila anak berusaha berbicara dengan cara lain, seperti menunjuk, menggelengkan kepala, gerak tubuh, dll.
* Status oral-motor anak (bagaimana kondisi mulut, lidah, langit-langit, dll.semuanya bekerja untuk berbicara, sebagaimana makan dan menelan)

Apabila anak memerlukan terapi bicara, maka keterlibatan orangtua sangatlah penting. Anda dapat mengamati sesi terapi dan belajar untuk terlibat dalam prosesnya. Terapis akan memperlihatkan apa yang harus anda lakukan di rumah untuk memperbaiki kemampuan bicara dan bahasa anak.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua?

Seperti halnya yang lain, perkembangan bicara merupakan perpaduan antara nature (alami) dan nurture (hasil bimbingan dan didikan). Genetik sang anak juga dapat memisahkan antara kecerdasan dengan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak. Bagaimanapun, sebagian besar malaha ini disebabkan oleh lingkungan di sekeliling anak. Apakah anak banyak diberi stimulus di rumah atau di sekolah ? Apakah ada kesempatan untuk berkomunikasi dalam keluarga? Timbal balik seperti apa yang didapatkan oleh anak?

Ketika masalah perkembangan, bahasa, bicara dan pendengaran terjadi, keterlibatan awal dapat membantu anak. Jika anda memahami mengapa anak anda tidak dapat berbicara, maka anda dapat mempelajari berbagai cara untuk mendorong perkembangan bicara anak. Berikut ini beberapa cara yang dapat anda kerjakan di rumah :

* Sediakan banyak waktu untuk berbicara dengan anak, bahkan ketika masih bayi – bicara, bernyanyi dan mendorong anak untuk menirukan suara dan gerak.

* Mendongeng – dimulai pada saat anak berusia 6 bulan. Anda tidak perlu menyelesaikan satu buku, tapi dapat menggunakan buku kecil yang bergambar agar anak dapat melihat gambar tersebut, sementara anda menyebutkan nama gambar itu. Cobalah buku bertekstur agar anak dapat menyentuhnya. Ketika anak bertambah usia, biarkan ia menunjuk benda/gambar apapun yang dilihatnya dan memberi nama apapun.Perlahan bimbinglah ia sesuai dengan pola asuh usianya secara bertahap.Lalu kembangkan dengan buku cerita seperti Brown Bear, iWinnie the Pooh, dan sejenisnya dimana anak anda dapat menebak jalan cerita tersebut. Anak akan mulai mengingat cerita favoritnya.

* Gunakan situasi sehari-hari untuk menguatkan kemampuan berbicara dan berbahasa anak anda. Dengan kata lain, bicarakan kegiatan sehari-hari anda atau hal-hal di sekelilingnya. Misalnya nama makanan di sebuah toko, menjelaskan apa yang anda lakukan ketika memasak dan membersihkan rumah, menunjuk dan memberi nama objek di dalam rumah, ketika berjalan bersama anak beritau nama suara yang didengar, dsbnya. Berikan pertanyaan dan rangsang anak anda untuk memberi respon (meskipun anak sulit untuk memahami). Buatlah sesederhana mungkin, namun hindari penggunaan cara bicara seperti bayi atau “baby talk.”

Berapapun usia anak anda, mengenali dan memberikan penanganan yang segera bagi permasalahannya merupakan pendekatan terbaik untuk membantunya agar tidak terlambat dalam kemampuan berbicara dan berbahasa. Melalui terapi dan waktu yang tepat, anak anda akan mampu berkomunikasi baik dengan anda maupun juga dunia. (*)

Ada Mutiara Di Dalam Lumpur

Januari 26, 2010

oleh Syaripudin Zuhri

Dalam hidup dan kehidupan, manusia yang ingkar jauh lebih banyak di dibandingkan manusia yang beriman, manusia yang imannya teguh dan tetap istiqomah lebih sedikit lagi, dan yang lebih khusus dari yang khusus lebih sedikit lagi, dan itu akan lebih sedikit lagi bila di negara-negara di Eropa atau Amerika, juga di Rusia. Allah SWT Yang Maha Baik kepada manusia, banyak yang tidak mengakui keberadaan-Nya atau ingkar kepadaNya. Allah tidak marah pada manusia-manusia yang ingkar akan keberadaanNya. Dia memberikan kebebasan untuk patuh atau ingkar kepadaNya. Bahkan yang sering terlihat di negara-negara yang mayoritas isinya orang-orang yang ingkar kepadaNya, justru kehidupannya lebih makmur, sejahtera dan jarang terjadi bencana alam. Sebaliknya di negara-negara yang jelas-jelas mayoritasnya muslim, kemakmuran dan kesejahteraan seakan jauh panggang dari api, kerusuhan, pertentangan, kericuhan dan sebaginya terjadi di mana-mana. Kehidupan yang sulit ditemukan di mana-mana, namun orang yang beriman tak akan pernah kuatir yang membabi buta, karena dia yakin setiap persoalan, kemiskinan, penderitaan, bencana dan sebagainya atau betapapun sulitnya hidup dan kehidupannya, dia yakin Allah SWT akan memberikan jalan keluar yang terbaik baginya. Orang yang beriman yakin betul, bila dalam hidup penuh dengan duka dan kesedihan, dia tak putus asa, karena tetap saja masih ada harapan, karena ada Dia di mana-mana. Orang beriman tak akan protes, kok orang-orang yang jelas-jelas kapir, mengapa hidupnya makmur ? Atau mengapa hidup sudah berlaku dan bertindak baik, tapi juga masih ada saja orang yang tak suka, masih ada aja yang membenci dan iri hati ,dengki bahkan mempfitnah. Begitu juga dalam pergaulan hidup, kamu sudah berhati-hati, eh masih ada saja, kerikil-kerikil tajam menusuk kaki, karena siapa tahu orang yang didepanmu tersenyum manis, tapi dibelakangmu akan mengejek habis-habisan. Atau hati-hati terhadap orang yang menjelek-jelekan orang lain di hadapanmu, karena pada gilirannya orang tersebut akan menjelek-jelekan kamu di depan orang lain. Kamu benar saja, masih banyak orang yang tak suka padamu, apalagi kamu berbuat salah dan penuh dengan kesalahan. Namun jangan kwatir, yang pernah disakiti, dihina, dicaci, dimaki bukan cuma kamu, tapi banyak orang lain lagi, kamu sih belum apa-apa dan belum di apa-apakan oleh orang-orang tak suka padamu. Bagi orang beriman yang tingkatannya sudah di atas rata-rata, maaf, diludahi dan dicium itu sama, dicaci dan dipuji itu sama, difitnah dan dipuja itu sama, disakiti dan disanjung itu sama, dijauhi dan didekati itu sama, dibenci dan dicintai itu sama, disambit dan disambut itu sama, dipenjara dan dibebaskan itu sama, baginya sama kedaan tak merubah dan mempengaruhi dirinya. Semua di hadapi dengan selalu bersandar kepadaNya, dia lenyap bersamaNya, di fana bersamaNya, dia tak peduli segala apa yang berkenaan dengan pujian atau cacian. Semuanya itu hanya bumbu-bumbu dunia, dia lebih terfokus pada Yang Maha Menyintai MakhlukNya. Bila dia mendapat berita tidak enak atau mengalami duka cita yang mendalam, atau mendapat musibah yang tak habis-habisnnya, dia tak menyimpan segala duka dan kesedihan itu, dia lenyapkan segera sumber penyakit itu. Jangan menyimpan penyakit, segera lupakan. Hidup mudah, kok dibuat susah. Tuhan saja tak mau membuat susah umatNya. Rosulpun bersabda: Permudahlah, jangan persulit! Bila masa lalumu penuh dengan kesulitan dan kesusahan, penuh dengan ejekan dan hinaan, penuh dengan kesia-siaan dan disia-siakan. Penuh dengan barang-barang bekas! Dipindahkan dari satu kamar ke kamar lain tanpa bisa berkata apa-apa. Masa kecil penuh dengan penyakit dan disakiti. Masa lalu suram, jika sekarang juga suram, lalu kapan kamu senang ? Kapan kamu bahagia? Biarkan masa lalumu yang penuh duka itu, kami masih memiliki hari ini dan hari depan! Jangan biarkan duka masa lalu jadi bumerang yang menghantammu, biarkan duka itu terkubur dalam sejarah hidupmu. Belajarlah dari duka masa lalu, agar tak menjadi duka hari ini dan masa depan. Jadikan duka masa lalu untuk obat masa kini dan masa datang. Jadikan duka masa lalu cermin untuk berkaca pada masa kini dan masa depan. Ingat dihadapanmu ada Allah SWT dengan kasih sayangNya. Yang jelas, segala suatu kejadian apapun, seperti bencana alam, ada hikmahnya, yang kelihatannya buruk, sedih, duka, nelangsa, derita dan sebagainya. Allah menjanjikan dalam kitabNya bahwa tak ada sesuatupun di alam semesta ini yang diciptakanNya dengan sia-sia, semuanya ada hikmahnya. Yang terbuangpun punya hikmah, yang kotorpun ada hikmahnya. Sampah punya hikmah, racun punya hikmah, terhina ada hikmahnya, dicaci ada hikmahnya, dikucilkan ada hikmahnya, di dalam dukapun ada hikmahnya begitu seterusnya. Hikmah itu akan di dapat bagi yang mau mencari di balik setiap peristiwa, bagi yang mau berpikir, bagi yang mau merenung, bagi yang tidak berputus asa terhadap segala macam ujian dan cobaan yang betatapun pahitnya. Dalam situasi dan kondisi apapun Allah SWT menyediakan hikmah/rahasia di dalamnya. Maka pandai-pandailah mencari hikmahNya. Coba kembali melihat masa lalu, ketika lahir toh kamu tak membawa apa-apa, lalu kenapa pusing tak punya apa-apa. Matipun tidak membawa apa-apa. Saat duka melanda jiwa, derita menghantam segala daya dan saat seakan dunia begitu sempit, yakinlah ada anggrek di dalam hutan lebat, ada mentari di balik kabut, ada cahaya di balik kegelapan, ada tawa di balik tangisan, ada bahagia di balik duka, ada kemudahan dibalik kesulitan, ada mutiara dalam lumpur yang hitam pekat, lalu mengapa kamu bersedih ? Kamu harus siap mati untuk tetap hidup. Ini kelihatannya aneh, untuk tetap hidup kok harus mati ? Sepertinya sebuah kontradiksi, namun bila mau dikaji lebih mendalam akan ditemukan hikmah yang luar biasa, kok bisa ? Karena orang yang sudah siap mati, akan lebih mudah untuk menghadapi hidup dan kehidupan, bagaimana tidak, mati saja dia siap kok, apa lagi hidup. Kembali ke segala macam hinaan dan duka yang melanda, itu semuanya belum apa-apa, jika kita mau menengok sejarah para pejuang kebenaran. Betapa banyak tokoh dalam sejarah yang benar-benar siap mati dan dimatikan demi mempertahakan kebenaran yang diyakininya. Lain waktu kita bahas yang satu ini.

Tips Memulai Usaha Bisnis

Januari 17, 2010

Memulai sebuah usaha, entah itu besar atau kecil memang gampang-gampang susah. Apalagi bagi kita yang belum pernah atau belum berpengalaman dalam bisnis. Sehingga tidak jarang ada yang tidak jadi memulai usaha gara-gara terlalu banyak berpikir ini itu. Namun Arifin Nova Memberikan Tips dalam Blognya, yang ia beri judul 10 cara mudah mulai usaha. 1. Hobi, adalah cara paling mudah, enjoy dan anda lebih paham dengan bidang yang ditekuni. Contoh: bisnis bunga, bengkel, dan catering. 2. Terdesak kebutuhan, seperti PHK, menganggur, bisnis lesu atau orang tua meninggal, sehingga terpaksa jualan pakaian, kue, koran, dll. Ini adalah cara yang sulit, tetapi dengan kerja keras, sukses adalah mungkin. 3. Diajak teman, keluarga atau kolega untuk ikut MLM. Dengan modal relatif kecil dan sistem network yang baik, anda berpeluang untuk sukses. 4. Inspirasi dari koran, TV, internet, obrolan teman kantor, rumpi-rumpi tetangga atau lagi jalan-jalan sore. Begitu anda melihat “WOW”, langsung anda sulit tidur untuk segera mewujudkan mimpi bisnis anda. 5. Melanjutkan usaha keluarga, sehingga pada akhirnya dengan “tangan dingin” anda bisnis jadi lebih berkembang. 6. Mengisi waktu luang, seperti pensiunan, penulis, dll, lalu membuka toko kelontong, counter voucher HP, refil aqua, dan usaha konsultan. 7. Lihat peluang di tempat kerja, usaha teman, masalah yang berbau bisnis di sekitar rumah anda, seperti usaha laundry, rental PS, cleaning service, dll. 8. Memanfaatkan ilmu dan skill anda, seperti usaha penerjemahan, konsultan properti,toko/service komputer dan bimbingan belajar. 9. Ikut coaching, diklat, training, dan lokakarya, seperti sablon, elektronika dan salon. 10. Tiru bisnis di tempat kerja, lalu buka usaha serupa.

Orangtua atau Bos di Rumah?

Januari 17, 2010

Written By:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School/Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)

Ayah Bunda, dalam diri anak-anak Anda bisa jadi ada darah Anda. Hanya saja, tidak semua orangtua jadi orangtua sebenarnya untuk anak-anaknya, tapi hanya menjadi Bos Anak, yakni menjadi Bos di Rumah untuk anak-anaknya.

Bos Anak, membuat takut dalam diri anak-anaknya
Orangtua membangun kepercayaan anak-anak nya

Bos Anak sering mengatakan “Pokoknya Mama Papa Tidak Mau….”
Orangtua sering mengatakan “Mama Papa Sangat Senang Jika Kamu….”

Bos Anak sangat tahu bagaimana mengatur anak
Orangtua sangat tahu bagaimana membina anak

Bos Anak selalu mengendalikan anak
Orangtua membantu anak mengendalikan dirinya sendiri

Bos Anak berfokus pada keburukan anak
Orangtua berfokus pada kebaikan anak

Bos Anak bicara pada saat anak berantem
Orangtua bicara pada saat anak rukun

Bos Anak menguasai anak
Orangtua bekerjasama dengan anak

Bos Anak menyelesaikan hampir semua masalah anak
Orangtua melatih anak menyelesaikan masalahnya sendiri

Bos Anak sangat lihai menyalahkan saat anak bermasalah, mundur ke belakang
Orangtua rendah hati menemukan solusi bersama saat anak bermasalah, maju ke depan

Bos Anak mengatakan “lain kali jangan kayak gitu!” saat anak minta maaf
Orangtua mengatakan “Subhanallah, alhamdulillah, anak Mama Papa berlapang dada meminta maaf”

Bos Anak itu otoriter pada anak
Orangtua itu otoritatif pada anak

Bos Anak nonton tv pada saat anak belajar
Orangtua mematikan tv pada saat anak belajar

Bos Anak selalu menanyakan ‘bagaimana pelajaran kamu hari ini? Bagaimana nilaimu?’
Orangtua menanyakan ‘apa yang membuatmu tertawa hari ini di sekolah nak?’

Bos anak menceramahi anak ‘mama papa bilang apa, kamu sih banyak main, nilaimu jadi jelek begini, prestasimu turun!’
Orangtua bicara dengan anak ‘mama papa yakin kamu kecewa dan sedih dengan nilai belajarmu. Adakah yang bisa mama papa bantu agar nilaimu jadi lebih baik?’

Bos anak mengusir anak saat pulang kerja ‘sana jangan dekat-dekat, kamu tau mama papa kan cape!’
Orangtua merengkuh anak saat pulang kerja ‘sini anak-anakku. Siapa dulu yang mau bercerita?’

Jangan Pernah Mendoakan Keburukan Bagi Anak

Januari 17, 2010

Ayah Bunda boleh jengkel, kesal, kecewa terhadap ulah anak. Tapi, jangan pernah sekali-kali mendoakan keburukan bagi anak. Rasululullah bersabda “Janganlah kalian mengharapkan keburukan bagi diri kalian sendiri atau anak-anak kalian!…… ” Bisa jadi doa buruk Ayah Bunda justru yang tambah merusak perilaku anak.

Contoh Kalimat Buruk yang Tak Sengaja Jadi Do’a

Hati-hati ucapan seperti ‘anak kurang ajar’… ‘dasar anak bodo’ . ‘dasar pemalas!’. Alkalimattud’doa. Kalimat itu bisa jadi do’a. Akan terekam di pikiran bawah sadar anak jika terlalu sering: “aku kurang ajar”, “aku bodoh”, “aku pemalas!” Akhirnya menyulitkan orangtua sendiri bukan? Anak makin sulit dikendalikan. Yuk Ayah, Bunda, belajar lebih baik. Dan katakan, “insya Allah saya bersedia berubah lebih baik!”

Cara Tepat Meluruskan Anak

Cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Perhatikanlah wahai ayah ibu, jika Anda menginginkan anak-anak menjadi hamba Allah yang mulia, maka muliakan anak Anda, agar mereka muliakan kehidupan.

Panggilan Rasulullah pada Anak

Kalimat “Wahai Anakku” sering diucapkan Rasulullah Saw. Karena panggilan ini dapat membuat anak ‘diakui’, terasa dekat dan bahwa ia adalah permata orangtuanya. Bukan masuk pada telinganya, tapi merasuk pada relung jiwanya. Maka panggilah anak-anak Ayah Ibu dengan panggilan yang menyentuh hatinya seperti ini atau contoh lain semisal ini.

Merintis Usaha dari Kecil

Januari 17, 2010

Merintis Usaha dari Kecil Bisnis,  Melihat atau mendengar orang yang merintis usahanya dari kecil dan sukses merupakan pemandangan yang indah dan menyenangkan bagi saya. Sering saya merasa salut, kagum, bahkan mengidolakannnya. Karena merintis usaha dari kecil butuh sebuah kesabaran, ketekunan, dan teknik-teknik tersendiri yang tidak semua orang bisa melakukannya. Usaha yang dirintis sejak kecil kadang memang bisa bertahan lebih lama, karena tahu lebih detil tentang kekurangan dan kelemahannya, dan tahu juga bagaimana cara mengatasinya. Sebagai contoh bisnis hotel yang dilakukan oleh Hilton. Ia merintis usaha hotelnya dari rumah yang ia renovasi menjadi kamar-kamar kecil. Lalu pusat bimbingan belajar Primagama, dari semula hanya satu dan biasa, sekarang sudah menjadi ribuan cabang, hanya karena diwaralabakan. Sebagai contoh lain ketika saya melihat sebuah warung kakilima yang menjajakan mie ayam (maklum hobi mie ayam), saya merasa salut ketika diberitahu bahwa ia tidak hanya memiliki satu tempat saja, tetapi sudah empat, yang setelah saya cek ternyata laris semua. Tidak kurang dari 200porsi perharinya untuk satu warung. Jika ia mengambil keuntungan 1000 perporsinya, berarti 24juta setiap bulan bisa ia kantongi. Ini belum termasuk keuntungan dari berjualan minuman, dan makanan tambahan lain, seperti krupuk dll. Atau contoh yang ini, seorang penjahit yang khusus melayani permak celana jeans. Disamping pengerjaannya yang tidak membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa ditunggu, membuat pekerjaan ini sering kebanjiran order. Seperti pengalaman saya sendiri ketika membeli celana baru, pasti akan saya permak dulu, karena celananya lebih panjang daripada kaki saya. Berapapun harga celana, entah mahal atau murah, kalau kebesaran atau kekecilan pasti tidak akan cocok dipakainya. Sehingga harus merelakan untuk dipermak. Karena bisa menangkap peluang inilah, seorang penjahit khusus permak didekat kampus UGM, selalu kebanjiran order. Yang lagi-lagi tidak hanya satu tempat yang ia miliki. Mengasah kemampuan dalam menangkap peluang untuk jangka panjang, dan memulainya dari kecil, memeliharanya dengan kesabaran dan ketekunan, dan berjuang secara sungguh-sungguh, selalu memberi efek yang luar biasa. Apapun usahanya, jika dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh pasti akan mencapai kesuksesan. Banyak contoh kasus disekitar kita. Menduplikat kesuksesan orang lain mungkin jalan yang cepat, tetapi tidak selalu dianjurkan, karena masing-masing pribadi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Tetapi jika baru itu yang bisa dilakukan tidak menjadi masalah, kita bisa menambah kekurangan dari yang kita duplikat. Jadi jangan menduplikat mentah-mentah. Apapun jenis usahanya, lakukan saat ini juga!

Homeschooling pada Anak Usia Dini

Januari 7, 2010

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah sebuah fenomena yang sedang marak pada saat ini. Para orangtua berduyun-duyun memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini, bahkan sejak mereka masih bayi dan dalam kandungan.Pada satu sisi, fenomena ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian orangtua atas pendidikan dan masa depan anak-anak. Stimulus sejak usia dini pada anak-anak merupakan sebuah hal yang positif untuk memicu perkembangan anak.
Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya.Tetapi pada sisi lain, fenomena ini juga perlu dicermati. Terutama dalam aspek pertumbuhan anak yang menjadi subyek pendidikan. Jangan sampai anak berubah menjadi obyek yang dinilai dengan ukuran orang-orang dewasa. Demikian pun, materi yang dikembangkan untuk anak jangan sampai membuat anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang karena terlalu mendapat tekanan yang besar dalam perkembangan pada aspek tertentu, misalnya aspek kecerdasan kognitifnya.Pada tahun 1970-an, fenomena orangtua yang mengirimkan anak ke sekolah formal sejak usia dini pernah diteliti oleh Dr. Raymond Moore dan isterinya, Dorothy Moore. Hasil penelitian yang dibukukan dalam “Better Late than Early” itu menyoroti tentang dampak buruk lepasnya keterikatan emosional anak dengan orangtua sejak usia dini. Menurut Moore, peran orangtua dan keluarga pada anak-anak usia dini sangat besar. Hubungan cinta dan ikatan emosional orangtua dengan anak tidak bisa digantikan oleh institusi formal apapun. Sekali kerusakan emosional itu terjadi pada anak, dampaknya bersifat jangka panjang dan tidak dapat diperbaiki. Kehati-hatian juga diingatkan oleh Dewi Utama Faizah, pakar pendidikan anak usia dini dalam salah satu makalahnya “Anak-anak Karbitan”. Dewi mengingatkan orangtua agar berhati-hati dan tidak terjebak pada kondisi “early ripe, early rot”. Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya. Bisa jadi, pada usia dewasa anak tersebut mengalami kegagalan karena perkembangan emosionalnya tidak dapat digegas sebagaimana penggesan yang dilakukan terhadap perkembangan intelektualnya. Dalam pendidikan anak usia dini, orangtua perlu berhati-hati agar tidak berasumsi bahwa prestasi akademik pada anak usia dini merupakan jaminan keberhasilan hidup anak-anak di usia dewasa. Asumsi ini dapat menjebak orangtua dengan program percepatan untuk memicu anak berprestasi akademis sejak usia dini dengan mengabaikan aspek perkembangan emosionalnya. Dewi mengutip kisah Edith (1952) yang terkenal jenius karena mendapat stimulus kognitif dari ibunya sejak janin. Pada usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna, usia 5 tahun Edith menyelesaikan bacaan ensiklopedi Britannica, usia 12 tahun dia masuk universitas, usia 15 tahun menjadi guru matematika di Michigan State University. Ibunya, Aaron Stem, berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Hal itu dikontraskan dengan Albert Einstein yang sempat dianggap bebal pada masa kecilnya, tetapi kemudian melahirkan karya-karya besar pada usia dewasanya. Dalam pandangan yang serupa, para praktisi yang menjalani homeschooling sejak anak usia dini menikmati proses bersama yang mereka lakukan bersama anak-anak. Tetapi, pada saat bersamaan mereka berhati-hati dan mencari keseimbangan antara stimulus kognitif dan dukungan untuk perkembangan emosional anak. Untuk membangun hubungan personal dengan anak, para praktisi homeschooling tak segan untuk melakukan penyesuaian dalam proses kehidupan pribadi mereka.
“Satu test untuk menguji kebenaran sebuah prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak-anak. (Maria Montessori, 1870-1952)” Sementara itu, Dita Maulina, praktisi homeschooling yang juga mantan dosen psikologi, menyoroti mengenai aspek fun (keriangan) dalam proses pendidikan anak usia dini. Menurutnya, dunia anak adalah dunia bermain. Aspek bermain yang menyenangkan bagi anak harus mendapatkan tekanan utama dalam pendidikan anak usia dini. Selain aspek fun, kesiapan anak untuk belajar juga menjadi perhatian Ria Heraldi, praktisi homeschooling yang tinggal di Palembang.Praktisi homeschooling lain, Dominika Arumdati, yang banyak belajar dari prinsip-prinsip pendidikan Montessori menekankan mengenai penciptaan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak melalui aktivitas-aktivitas kesehariannya. Dengan belajar dari praktek dan memperbaiki sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, anak terbangun kultur belajarnya yang akan berguna untuk kehidupannya saat dewasa nanti. Proses ini menjadi penyeimbang sekaligus penekanan yang lebih diutamakan daripada sekedar stimulus-stimulus yang hanya mendorong perkembangan kognitif anak.
Sumber :
http://72.14.235.132/search?q=cache:d5Ur73vqINYJ:www.sekolahrumah.com/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D548%26Itemid%3D118%26ed%3D25+artikel+pendidikan+anak+usia+dini&cd=34&hl=id&ct=clnk&gl=id

Hukum Salaman Setelah Shalat

Januari 7, 2010

yeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan bahwa pada dasarnya bersalaman adalah mubah (boleh) bahkan ada yang mengatakan sunnah karena hal itu dapat memunculkan kecintaan dan kasih sayang serta menguatkan ikatan persaudaraan.

Keutamaan hal itu telah diriwayatkan oleh berbagai hadits yang sebagiannya dengan jalan yang hasan, diantaranya dari Qatadah,”Aku berkata kepada Anas bin Malik,’Apakah bersalaman dilakukan oleh para sahabat NAbi saw,” Anas menjawab,”Ya.” (HR. Bukhori dan Tirmidzi)

Dari Hudzaifah bin al Yaman dari Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lainnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya serta menjabat tangannya maka akan luruhlah kesalahan-kesalahan keduanya seperti rontoknya dedaunan dari pepohon.” (HR. ath Thabrani didalam “al Ausath”. Al Mundziriy mengatakan didalam kitabnya “at Targhib wa at Tarhib” bahwa aku tidak mengetahui jika diantara para perawinya terdapat seorang pun yang cacat.”

Dari Salman al Farisiy dari Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya lalu menjabat tangannya maka dosa-dosa keduanya akan luruh sebagaimana rontoknya dedaunan dari pohon kering pada hari bertiupnya angin kencang dan akan diampuni dosa keduanya walaupun dosa keduanya seperti buih di lautan.” (HR. ath Thabrani dengan sanad hasan)
Adapun bersalaman setelah selesai melaksanakan shalat maka tidaklah pernah ada pada masa Nabi saw maupun pada masa Khulafaur Rasyidin, sedangkan hadits-hadits menyebutkan bersalaman itu pada saat seseorang bertemu dengan saudaranya.

Oleh karena itu Ibn Taimiyah mengatakan bahwa hal itu (bersalaman setelah shalat) adalah makruh akan tetapi al ‘Iz bin Abdissalam mengatakan bahwa ia adalah mubah (boleh) dikarenakan tak ada satu pun dalil yang melarangnya. Namun Nawawi mengatakan bahwa pada asalnya bersalaman adalah sunnah dan memelihara bersalaman itu pada beberapa keadaan lainnya tidaklah mengeluarkannya dari sunnah namun didalam kitab “Ghiza al Albab” milik as Safariniy (1/283) disebutkan bahwa sebagian mereka telah mengharamkannya.

Sementara Syeikh ‘Athiyah Saqar berpendapat bahwa perbedaan pendapat itu bermuara kepada definisi tentang bid’ah… dan selama permasalahan itu masih diperselisihkan maka tidak seyogyanya kita berfanatik dengan satu pendapat. ( Fatawa al Azhar juz IX hal 50)

Sementara itu Syeikh Ibn Baaz mengatakan bahwa dianjurkan untuk bersalaman saat bertemu di masjid atau di shaff dan apabila tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat maka mereka bisa bersalaman setelah melaksanakan shalat sebagai bentuk pengimplementasian sunnah yang mulia serta untuk meneguhkan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.

Akan tetapi apabila tidak bersalaman sebelum shalat fardhu maka disyariatkan baginya untuk bersalaman setelahnya atau setelah mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan.

Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang bersegera bersalaman setelah melaksanakan shalat fardhu, setelah mengucapkan salam kedua maka aku tidaklah mengetahui dasarnya dan yang jelas adalah bahwa hal itu adalah makruh dikarenakan tidak adanya dalil tentangnya karena yang disyariatkan bagi seorang yang shalat dalam keadaan seperti itu adalah bersegera mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw setelah melaksanakan shalat fardhunya.

Adapun shalat nafilah maka disyariatkan untuk bersalaman setelah salam apabila dia tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat itu dan jika ia telah bersalaman sebelumnya maka hal itu sudah cukup baginya. (Majmu’ Fatawa Ibn Baaz juz XI hal 267)

Bid’ah dan Macam-Macamnya

Bid’ah menurut terminologinya berasal dari kata bada’asy Syai, yubdi’uhu, bid’an dan ibtada’ahu berarti mengawalinya. Dan bida’ adalah sesuatu yang terjadi pertama… sedangkan bid’ah berarti baru yaitu sesuatu yang baru didalam agama setelah hal itu sempurna.

Adapun menurut etimologinya maka terdapat banyak definisi tentangnya dikarenakan perbedaan sudut pandang para ulama didalam pengertian dan kandungannya.

Diantara mereka ada yang memperluas kandungannya hingga mencakup segala sesuatu yang baru. Diantara mereka ada yang mempersempit kandungannya dan menyusutkannya serta meletakkan berbagai hukum dibawahnya.

Secara ringkas terdapat dua pandangan :

1. Para ulama ada yang mengatakan bahwa bid’ah adalah segala seuatu yang tidak terdapat didalam al Qur’an dan Sunnah, baik didalam permasalahan ibadah atau pun adat (kebiasaan) baik yang tercela maupun tidak tercela, diantara yang mengatakan ini adalah Imam Syafi’i, al Iz bin Abdissalam, an Nawawi dan Abu Syamah. Dari madzhab Maliki adalah al Qarafi dan az Zarqoniy. Dari madzhab Hanafi adalah Ibn Abidin. Dari madzhab Hambali adalah Ibn al Jauziy dan dari madzhab azh Zhahiriy adalah Ibn Hazm.

Pandangan ini tercakup didalam definisi yang diberikan al Iz bin Abdissalam tentang bid’ah yaitu suatu perbuatan yang tidak ada pada masa Nabi saw. Bida’ah ini terbagi menjadi bid’ah yang wajib, haram, mandub, makruh dan mubah.

Bid’ah yang wajib seperti ilmu nahwu untuk memahami firman Allah dan Rasul-Nya.. bid’ah yang haram diantaranya adalah madzhab al Qadariyah, al Jabriyah, al Murjiah dan al Khawarij. Bid’ah yang mandub seperti membuat sekolah-sekolah, membangun jembatan juga termasuk shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu imam. Bid’ah makruh seperti kaligrafi masjid, hiasan-hiasan pada mushaf. Bida’ah yang mubah seperti memperluas suatu kenikmatan didalam makan, minum maupun pakaian.

2. Ada sekelompok ulama yang mencerca perbuatan bid’ah serta menegaskan bahwa bid’ah adalah segala sesuatu yang sesat, baik didalam adat (kebiasaan) maupun ibadah. Diantara yang mengatakan ini adalah Imam Malik, asy Syatibiy dan ath Thurtusyi. Dari madzhab Hanafi adalah Imam asy Syamniyyi dan al ‘Ainiy. Dari madzhab Syafi’i adalah Baihaqi, Ibn Hajar al Asqalaniy, Ibn hajar al Haitsamiy. Dari madzhab Hambali adalah Ib Rajab dan Ibn Taimiyah. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 2814 – 2816)

Wallahu A’lam

Tanda-tanda Kekuasaan Allah pada DNA

Januari 7, 2010


Pertanyaan tentang eksistensi Allah yang dilontarkan kaum atheis selama kurun waktu yang lama itu roboh dengan sendirinya. Hukum perubahan dan darwinisme, apabila dihadapkan pada penemuan-penemuan baru di alam semesta dan pada anatomi tubuh manusia, akan menjadi sesuatu yang menggelikan, selayaknya klaim-klaim yang tidak bisa dipertahankan dan sepatutnya ditutup dalam arsip sejarah sebagai sesuatu yang tidak pernah terbukti dan sekaligus kontradiktif.

Segala sesuatu mulai dari atom hingga galaksi didesain untuk kebaikan bagi umat manusia. Penemuan DNA, unsur-unsur pokoknya, serta bagiamana ia bekerja, menghasilkan serangan hebat yang lain terhadap hukum perubahan. Allah di dalam al-Qur’an berfirman, ‘Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?’ (Fushshilat: 53)

Allah juga berfirman, ‘Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.’ (al-Jatsiyah: 4)

Bruce Alberts, presiden National Academy of Sciences, mengatakan, ‘Seluruh sel dapat dilihat sebagai pabrik yang berisi jaringan elaboratif untuk menyabungkan garis-garis pertemuan, dimana masing-masing terdiri dari satu set mesin protein yang besar.’

Bahkan sel-sel yang paling sederhana itu membuat decak kagum dengan mesin high-tech-nya. Di sisi luar, permukaannya dipenuhi dengan berbagai sensor, gerbang, pompa, dan pengidentifikasi.


Di bagian dalam, sel-sel itu dikemas dengan pembangkit tenaga, tempat kerja yang otomatis, dan unit-unit daur ulang. Monorel-monorel miniatur mengangkut berbagai Artikelal dari satu lokasi ke lokasi yang lain.
Pabrik modern yang paling maju dan otomotis, dengan berbagai komputer dan robotnya yang seluruhnya terkoordinasi dengan jadwal waktu yang presisi saja masih kurang kompleksnya dibanding pekerjaan-pekerjaan di dalam satu unit sel.

‘Suatu bakteri jauh lebih kompleks dibanding setiap sistim yang mati yang dikenal manusia. Tidak ada suatu laboratorium di dunia yang dapat menyaingi aktivitas biokimia organisme hidup yang paling kecil. Satu sel lebih rumit dibanding komputer paling besar yang yang pernah dibuat manusia.’ (Sir James Gray, Cambridge University)

DNA itu seperti suatu bahasa di dalam inti sel, suatu pesan molekular, satu set perintah yang menceritakan sel itu bagaimana caranya ia membangun protein—lebih menyerupai perangkat lunak yang diperlukan untuk menjalankan komputer. Lebih dari itu, banyaknya keterangan DNA sangat mengejutkan. Satu sel dari tubuh manusia berisi informasi tiga atau empat kali lebih banyak dibanding 30 volume Encyclopedia Britannica. Sebagai hasilnya, pertanyaan tentang asal-muasal hidup yang sekarang harus diredifinisi, sebagaimana pertanyaan tentang informasi biologis yang orisinal. Dapatkah informasi itu muncul dari alam sendiri? Atau apakah itu memerlukan suatu ‘intelligent agent’?


DNA terdiri dari bahan-bahan kimia alami (basis, gula, fosfat, yang bereaksi menurut hukum alam). Apa yang membuat DNA berfungsi sebagai suatu pesan itu bukan bahan kimia itu sendiri, tetapi lebih merupakan sekuen mereka, pola mereka. Bahan kimia dalam DNA dikelompokkan ke dalam molekul-molekul (yang disebut nukleotida) yang bertindak seperti surat-surat di suatu pesan, dan mereka harus di dalam perintah tersendiri jika pesan itu akan dapat dimengerti. Jika surat-surat itu campur aduk, maka hasilnya nonsense. Sehingga pertanyaan yang penting adalah apakah sekuen dari bahan kimia ‘surat-surat’ muncul sebab-sebab alam, ataukah ia memerlukan satu sumber yang cerdas? Apakah ia produk dari hukum atau produk desain?

Karena DNA berisi informasi, maka kasus itu lebih dapat dijelaskan dengan istilah-istilah teori informasi, suatu bidang penelitian yang menyelidiki bagaimana informasi-informasi itu ditransmisikan. Ilmuwan naturalistik hanya mempunyai dua cara yang mungkin untuk menjelaskan asal-muasal hidup—apakah itu chance (kebetulan) atau hukum alam. Tetapi teori informasi menyediakan suatu piranti yang tangguh untuk mendiskonto kedua penjelasan tersebut. Chance dan hukum sama-sama menjurus kepada struktur-struktur dengan isi informasi yang rendah, sedangkan DNA mempunyai suatu isi informasi yang sangat tinggi.’

Sekuen basis DNA tidak bisa dijelaskan dengan hukum alam karena tidak ada hukum kimia bahwa membuat setiap sekuen lebih mungkin dibanding yang lain. Pada waktu yang sama, sekuen-sekuan tersebut sangat rumit, sehingga ia tidak bisa dijelaskan sebagai sesuatu yang kebetulan.

‘Berdasarkan faktor-faktor kemungkinan, setiap helai DNA yang sehat mempunyai lebih dari 84 nukleotida, dan itu tidak mungkin sebagai akibat dari mutasi-mutasi yang sembrono. Pada tahap itu, kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah 1 dari 480 x 1050. Nomor seperti itu jika dituliskan akan terbaca:
480,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000.

‘Para ahli matematik setuju bahwa suatu jumlah syarat di atas 1050, secara statistik, adalah a zero probability (nol kemungkinan). Setiap jenis yang kita kenal, termasuk bakteri sel tunggal yang paling kecil, mempunyai jumlah nukleotida lebih besar dari 100 hingga 1000. Faktanya, bakteri sel tunggal menampilkan sekitar 3,000,000 nukleotida, yang dibariskan di suatu sekuen yang sangat khusus. Ini berarti bahwa tidak ada kemungkinan matematis apapun bagi suatu spesies untuk menjadi produk dari kejadian yang acak atau bermutasi (menggunakan pernyataan favorit para evolusionis).’ (I.L.Cohen, Darwin was Wrong, 1984, hlm. 205)

Studi terhadap DNA menyediakan bukti baru yang kuat bahwa hidup adalah produk desain yang cerdas.
Dewasa ini, bergantung pada harapan bahwa beberapa proses natural akan ditemukan untuk menjelaskan DNA, adalah sikap yang amat tidak logis. Proses yang susah dimengerti yang diharapkan para natularis untuk ditemukan itu sepenuhnya tidak akan ditemukan.

Meski manusia 97% dari struktur DNA mereka dengan beberapa binatang yang lebih tinggi, namun 3% yang terakhir itu sangat vital, dimaan semua peradaban manusia, agama, seni, ilmu pengetahuan, filsafat, dan yang paling penting moral mereka, tergantung padanya.

Inilah 3% yang membedakan antara pandangan theistik (rabbani) tentang asal-muasal manusia dari pandangan yang non-theistik. Seperti yang telah diperingatkan John Quincy Adams sejak dahulu, bahwa tanpa suatu kepercayaan asal-muasal yang theistik (dalam perbedaan 3% itu), manusia tidak akan memiliki nurani. Ia lebih tidak memiliki hukum dibandingkan harimau dan ikan hiu.’

Allah berfirman di dalam al-Qur’an, ‘Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.’ (an-Naml: 93)

Oleh Dr. Mohamad Daudah/ Eramuslim.com